Teknologi Penangkapan Karbon (DAC): Menyedot Emisi Gas Rumah Kaca Langsung dari Udara
Laporan konsensus ilmiah iklim dunia secara tegas menyatakan bahwa untuk mencegah bencana kenaikan suhu bumi di atas ambang kritis 1,5 derajat Celsius, menekan laju emisi gas buang baru saja tidak lagi mencukupi. Komunitas internasional dituntut untuk melakukan langkah penanggulangan aktif berupa pembersihan miliaran ton karbon dioksida yang telah terakumulasi di atmosfer sejak era revolusi industri pertama. Di sinilah teknologi Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon (CCUS), khususnya Direct Air Capture (DAC), memegang peranan krusial.
Fasilitas Direct Air Capture bekerja selayaknya pohon mekanik raksasa buatan manusia. Melalui instalasi barisan kipas hisap berukuran masif, udara bebas disedot dan dialirkan melalui bahan penyerap kimiawi cair atau padat yang secara selektif mengikat molekul karbon dioksida (CO2) murni dan melepaskan kembali udara bersih ke atmosfer. Gas karbon dioksida pekat yang berhasil ditangkap kemudian dipanaskan dan dikompresi menjadi bentuk fluida bertekanan tinggi.
Setelah terkumpul, karbon cair tersebut dapat diinjeksikan ribuan meter ke dalam formasi batuan basal vulkanik di bawah permukaan bumi. Melalui reaksi mineralisasi alami dengan mineral batuan bawah tanah, cairan CO2 tersebut bereaksi dan mengkristal membatu menjadi batuan padat permanen dalam kurun waktu dua tahun, memastikan gas rumah kaca tersebut terperangkap selamanya tanpa risiko bocor kembali ke permukaan bumi. Selain disimpan permanen, karbon tangkapan ini dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar sintetis penerbangan ramah lingkungan atau campuran agregat beton bangunan yang rendah karbon.
Kendala terbesar yang dihadapi industri penangkapan karbon saat ini berpusat pada besarnya konsumsi energi listrik dan panas yang dibutuhkan untuk menjalankan reaktor filter kimiawi tersebut. Agar fasilitas DAC tidak malah menghasilkan jejak karbon baru, operasinya wajib ditenagai oleh sumber energi panas bumi (geotermal) atau panel surya mandiri. Penurunan biaya penangkapan per ton karbon melalui subsidi pasar kredit karbon internasional akan menjadi penentu keberhasilan teknologi ini dalam membalikkan kurva pemanasan global.